Bandung Berhenti Sejenak, Mengukir Sejarah dalam Budaya Sepak Bola

Bandung Berhenti Sejenak, Mengukir Sejarah dalam Budaya Sepak Bola
Font size:

Setiap individu yang pernah singgah di Kota Bandung mungkin tak asing dengan tulisan yang terpatri di lorong Jalan Asia Afrika: “Bumi Pasundan terlahir ketika Tuhan sedang tersenyum,” atau kutipan Sang Proklamator, Ir. Soekarno, “Aku kembali ke Bandung, kepada cintaku yang sesungguhnya.”

 

Kota kecil yang namanya kerap disebut oleh para tokoh nasional dan hadir dalam lirik-lirik musik yang lirih. Seakan menyimpan kenangan yang tak pernah benar-benar pergi dari ingatan siapa pun yang pernah menghirup udara dingin khas Kota Kembang tersebut.

 

Sebagai seseorang yang lahir dan tumbuh di kota ini, Bandung tak selalu semanis cerita-cerita yang kerap meromantisasikannya, setidaknya demikian yang saya rasakan. Tata kelola kota yang buruk menjadi pangkal dari kegelisahan saya. Kemacetan, banjir, upah yang tak memenuhi standar, hingga penggusuran yang kerap berujung pada kekerasan dan intimidasi, seolah dibiarkan mengakar tanpa penyelesaian yang benar-benar pasti.

 

Namun, setiap insan yang pernah singgah di kota ini hampir selalu menemukan caranya sendiri untuk mencintainya. Setiap sudut pandang memberi keistimewaannya masing-masing kepada Bandung. Sebab jika hanya soal hawa dingin, Malang pun tak kalah menggigil; jika berbicara tentang integrasi kota, Solo telah lama punya jawabannya.

 

Sebagai seseorang yang tumbuh dengan rasa cinta terhadap sepak bola, saya pun menemukan alasan paling personal untuk mencintai kota ini. Bandung, dengan segala keterbatasannya, telah memilih sepak bola bukan sekadar hiburan, melainkan sebagai budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

 

Sepak bola di kota ini bukan sekadar permainan, melainkan peristiwa yang pantas disaksikan dan dirayakan setiap pekannya. Pada suatu malam, ketika Persib berlaga di pentas Asia, saya menyaksikan bagaimana Bandung benar-benar berhenti sejenak memberi ruang bagi sang penjaga warisan untuk berlaga. Bandung memang bukan kota metropolitan yang bergerak cepat.

 

Semua Mata Tertuju pada Satu Tayangan

 

Persib Bandung ACL Two lolos

 

Namun, pada malam itu segalanya terasa berhenti. Bukan akhir pekan, dan esok hari semua orang mesti kembali beraktivitas, tetapi jalanan justru terasa lengang. Para pekerja, mahasiswa, hingga pengemudi ojek online menepikan kendaraan mereka, beralih memenuhi warung-warung kopi yang memutar tayangan langsung Persib berlaga. Mereka yang mesti tetap bekerja atau berjualan memilih menengadahkan kepala sejenak, mencuri waktu untuk mengintip jalannya laga, lalu berteriak setiap kali Persib mendapatkan peluang.

 

Sepanjang perjalanan, setidaknya dari Jalan Dago hingga Buah Batu, saya menyaksikan pemandangan yang nyaris serupa. Semua pasang mata tertuju pada satu siaran yang sama, pertandingan yang digelar di Gelora Bandung Lautan Api. Menyaksikan klub favorit kami berbicara lantang di Asia, sekaligus menorehkan sejarah bagi sepak bola Indonesia, menjadi pengalaman yang terasa luar biasa malam itu.

 

Persib Bandung yang menjejakkan sejarah di babak 16 besar ACL Two, berpadu dengan atmosfer Kota Bandung malam itu, di setiap sudut, ditemani hawa dingin khas Kota Kembang, menjadi alasan yang membuat saya sepakat dengan Perunggu, Bandung kan selalu memiliki alasan untuk memelukmu.

 

Budaya sepak bola di Kota Bandung adalah sesuatu yang tak akan mudah ditemui di kota lain, ia hidup dari ingatan kolektif, dari jalan-jalan yang mendadak lengang saat malam pertandingan, dari sorak yang tertahan di warung kopi. Dan di tengah semua itu, Persib Bandung berdiri sebagai pewaris tunggal, penjaga sejarah, identitas, dan cinta yang terus diwariskan lintas generasi. Tinggal satu pekerjaan rumah, membenahi permasalahan kotanya, agar Bandung benar-benar pantas diromantisasikan oleh semua pihak.


Penulis: Riro Adnan (@Riroadnans)

Peran Captain Tsubasa dalam Kemajuan Sepak Bola Jepang
Artikel sebelumnya Peran Captain Tsubasa dalam Kemajuan Sepak Bola Jepang
Artikel selanjutnya
Artikel Terkait